Jumat, 10 Januari 2020

Jari Tangan Terjepit Pintu? Ini Cara Meredakan Nyerinya

Januari 10, 2020 0

Cara meredakan nyeri akibat jari tangan terjepit pintu

Jari tangan terjepit pintu merupakan cedera yang paling umum terjadi. Ini biasa terjadi pada anak-anak saat bermain atau orang dewasa yang kurang hati-hati.
Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gejala, meliputi nyeri, merah dan bengkak, memar keunguan atau hitam, bahan jari terasa kaku dan kadang mati rasa. Pada kasus yang parah, dapat juga menyebabkan luka terbuka akibat kuku yang rusak. Bahkan, kuku bisa terlepas dalam satu atau dua minggu setelah cedera.
Seattle Children’s Hospital menyebutkan bahwa patah tulang tidak umum untuk cedera ini. Namun bila ini terjadi, tulang berisiko mengalami infeksi bakteri dan ini dikenal dengan osteomielitis dalam dunia medis.
Langkah terbaik yang bisa Anda lakukan adalah segera meredakan gejala nyeri akibat jari tangan terjepit pintu, dengan cara berikut:

1. Kompres dengan es

Setelah terjepit, Anda bisa mengurangi peradangan, pembengkakan, dan rasa nyeri dengan menempelkan kompres es ke area jari tangan yang terjepit pintu. Sensasi dingin dari es batu bisa melegakan jari dari rasa sakit.
Tempelkan kompres tersebut tidak lebih dari 15 menit dan dapat dilakukan beberapa kali sehari sesuai kebutuhan. Ingat, jangan tempelkan es batu langsung ke kulit karena bisa memperparah peradangan.

2. Istirahat sejenak dari aktivitas

Perawatan selanjutnya untuk meredakan gejala jari tangan terjepit pintu adalah istirahat sejenak. Terutama jika cedera yang didapat cukup parah.
Jangan memaksakan diri Anda untuk melanjutkan pekerjaan, contohnya mengangkat benda berat dengan jari, karena bisa meningkatkan rasa nyeri. Anda harus berhati-hati ketika menggerakkan jari agar tidak memicu rasa sakit jadi lebih parah.

3. Oleskan antibiotik

plester luka
Sumber: Product Nation
Jika cedera tersebut membuat kulit atau kuku rusak, segera bersihkan dengan air mengalir. Kemudian, oleskan krim antibiotik sesuai resep dokter untuk mencegah terjadinya infeksi.
Kemudian, tutup luka dengan kasa, perban, atau plester. Jangan lupa untuk membersihkan luka dan mengganti penutup luka setidaknya dua kali sehari.

4. Menempatkan jari lebih tinggi dari dada

Agar jari tangan terjepit pintu cepat sembuh, Anda perlu menempatkan jari lebih tinggi dari dada. Tujuannya, untuk memperlambat aliran darah ke jari sehingga peradangan tidak memburuk.
Cara ini tidak hanya dilakukan setelah Anda cedera saja. Anda perlu melakukannya sesering mungkin agar jari cepat pulih dari cedera.

5. Minum obat pereda nyeri

Jika gejala cukup mengganggu, Anda bisa meredakannya dengan minum obat. Anda boleh memilih obat pereda nyeri, seperti paracetamol dan ibuprofen. Kedua obat ini dapat meringankan rasa nyeri akibat jari tangan terjepit pintu sekaligus pembengkakan.

Haruskah pergi ke dokter?

pergi ke dokter kandungan
Dalam waktu 48 jam setelah Anda melakukan perawatan, rasa nyeri dan pembengkakan akan membaik. Namun, bila sudah menimbulkan luka pada kulit atau kuku, proses penyembuhan butuh waktu lebih lama, yakni berkisar 4 hari hingga berminggu-minggu.
Jika sampai membuat kuku terkoyak sebagian, proses penyembuhan butuh waktu berbulan-bulan. Setelah kuku tumbuh, tampilan kuku mungkin akan berubah.
Pada kasus ringan, jari tangan terjepit pintu dapat sembuh dengan perawatan rumahan. Namun, perlu juga perawatan dokter, terutama jika kuku mengalami kerusakan, jari susah digerakkan, pembengkakan parah lebih dari 2 hari, dan rasa nyeri tidak kunjung membaik.

Memenuhi Asupan Serat Harian Tanpa Alami Masalah Pencernaan

Januari 10, 2020 0
Mengonsumsi makanan berserat tinggi memang baik karena dapat memperlancar dan menyehatkan pencernaan. Meski begitu, terlalu banyak asupan serat juga dapat menyebabkan masalah pencernaan, seperti perut kembung. Lantas, bagaimana menyiasatinya?

Berapa batas asupan serat per hari?

Kebutuhan serat optimal setiap orang berbeda berdasarkan kelamin, usia, dan status kehamilan. The Academy of Nutrition and Dietetics merekomendasikan asupan serat sebagai berikut:
  • 25 gram per hari untuk wanita dewasa
  • 38 gram per hari untuk pria dewasa
  • Kebutuhan serat berkurang untuk yang berusia 50 tahun ke atas (wanita: 21 gram, pria: 30 gram)
  • Kebutuhan serat bertambah untuk ibu hamil dan menyusui (minimal 28 gram per hari)

Gejala yang muncul jika kelebihan asupan serat

Meski serat baik untuk pencernaan, nyatanya mengonsumsi terlalu banyak justru dapat menyebabkan masalah pencernaan. Apalagi jika sebelumnya Anda tidak terbiasa atau kurang konsumsi serat.
Meningkatkan asupan serat secara drastis bisa menimbulkan gangguan pencernaan. Beberapa gejala yang muncul apabila Anda kelebihan asupan serat antara lain:
  • Perut kembung
  • Sakit perut
  • Diare
  • Sembelit
  • Kenaikan berat badan sementara
  • Kadar gula menurun, yang penting untuk penderita diabetes
Segera hubungi dokter jika Anda mengalami mual, muntah-muntah, demam tinggi, atau sama sekali tidak bisa buang angin dan buang air besar.

Tips mengatur asupan serat agar tak kelebihan

Anda tentu dapat mengira-ngira apakah Anda sudah kelebihan asupan serat atau tidak. Terlebih jika Anda secara tiba-tiba menambahkan makanan tinggi serat pada menu harian Anda.
Agar tidak kelebihan serat dan mengalami efek samping yang mengganggu pada pencernaan, beberapa tips berikut mungkin dapat membantu Anda.

Atur porsi makan seimbang

“Membagi rata asupan serat di sepanjang hari dapat menghindarkan Anda rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan yang mungkin diakibatkan jumlah serat yang terlalu banyak,” ujar Brie Turner-McGrievy, Ph.D., R.D., dari University of North Carolina di Chapel Hill.
Itu sebabnya, pastikan Anda menyebar jumlah serat Anda dalam setiap makan atau camilan yang Anda makan dalam sehari. Jangan menumpuknya dalam 1 porsi makan. Pastikan pula jumlah hariannya sesuai.

Tingkatkan asupan serat secara perlahan

Berkomitmen pada pola makan sehat mungkin membuat Anda terpicu untuk menambahkan asupan serat harian dengan cepat. Sayangnya, ini bukanlah cara yang tepat.
Dalam hal mengonsumsi serat, sebaiknya lakukan secara perlahan. Anda perlu memberikan waktu untuk organ dalam Anda terbiasa dengan jumlah serat yang dimakan.
Dengan demikian, efek samping dari meningkatnya jumlah serat secara drastis dapat dihindari.
Merasakan adanya gangguan pada pencernaan mungkin dapat menjadi salah satu tanda bahwa Anda tak lagi perlu menambah jumlah serat pada porsi makan.

Tetap terhidrasi

Cairan dan serat saling berhubungan. Semakin banyak serat yang dikonsumsi, semakin banyak pula cairan yang Anda butuhkan.
“Kita harus memastikan bahwa kita minum air yang cukup sejalan dengan serat yang masuk agar pencernaan lancar,” ujar Turner-McGrievy.
Perlu diingat bahwa jus, sup, dan cairan dalam bentuk lain pun berpengaruh. Artinya, tidak hanya air putih.
Jika menu makan Anda lengkap, termasuk sayuran, biji-bijian, buah dan gandum utuh, Anda akan mudah memenuhi rekomendasi asupan serat per hari.
Mencukup asupan serat bukan berarti memegan konsep “lebih banyak, lebih baik”. Tetap ada takaran yang harus diperhatikan.
Mengkonsumsi serat lebih dari yang direkomendasikan tidak akan secara ajaib meningkatkan kesehatan.

Kesalahan Saat Memakai Skincare yang Mungkin Anda Lakukan

Januari 10, 2020 0

Kesalahan yang mungkin Anda lakukan saat memakai skincare

Apakah Anda merasa kulit tetap berjerawat, padahal sudah memakai produk perawatan kulit? Atau, mungkin kulit Anda justru mengalami kemerahan dan iritasi setelah memakai rangkaian produk tertentu. Bisa jadi Anda memang tidak cocok dengan produk skincare tersebut, atau Anda keliru saat melakukan cara-cara tertentu.
Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah Anda lakukan saat memakai skincare.

1. Cuci muka terlalu sering

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa semakin sering kita cuci muka, maka semakin kecil kemungkinan jerawat muncul. Nyatanya, terlalu sering cuci muka termasuk kesalahan menggunakan skincare yang sering kali dilakukan banyak orang.
Cuci muka terlalu sering justru dapat memperparah kondisi kulit Anda, terlebih lagi jika kulit Anda sedang berjerawat.
Mengutip laman Verywell Health, hal ini dikarenakan kulit Anda akan kehilangan minyak alami yang dibutuhkan agar kulit tetap lembap. Hasilnya, kulit menjadi terlalu kering, kemerahan, bahkan mengelupas.
Jadi, sebaiknya Anda tidak mencuci muka lebih dari 2 kali sehari. Membersihkan wajah Anda di pagi dan malam hari sudah cukup untuk menghilangkan debu dan kotoran yang menempel.

2. Memilih produk yang tidak sesuai dengan jenis kulit

Semakin banyaknya rangkaian produk skincare yang ada saat ini memang terkadang menggoda Anda untuk membeli dan mencobanya. Namun, tunggu dulu. Apakah Anda yakin Anda sudah memilih produk yang cocok dengan jenis kulit Anda?
Jangan karena produk skincare tersebut sudah di-review oleh beauty vlogger terkenal, atau sedang naik daun di media sosial, Anda langsung membelinya tanpa melihat apakah produk tersebut sesuai untuk kondisi kulit Anda.
Misalnya, jika Anda memiliki kulit kering dan sensitif, hindari sabun cuci muka yang mengandung terlalu banyak busa. Jangan pula membeli produk karena tertarik dengan kandungan lidah buaya di dalamnya padahal ternyata kulit Anda alergi dengan bahan tersebut.

3. Dosis skincare terlalu banyak

Kesalahan lain yang mungkin pernah Anda lakukan saat memakai skincare adalah menggunakan produknya dalam dosis atau takaran yang terlalu banyak.
Mungkin Anda berpikir, semakin banyak yang digunakan, semakin banyak pula manfaat yang bisa kulit Anda dapat.
Hal ini justru tidak disarankan oleh Dr. Vivian Shi, seorang ahli dermatologi di University of Arizona. Berikut adalah takaran produk skincare yang direkomendasikan oleh Dr. Shi, sesuai dengan jenis produknya:
  • Seukuran kacang: face lotion, pelembap wajah (moisturizer), dan krim tangan atau kaki
  • Seukuran anggur: Sabun muka, toner, masker, dan pelembap badan (body lotion)
  • Seukuran beras: eye cream dan serum

4. Mengeksfoliasi kulit secara berlebihan

Eksfoliasi kulit biasanya dilakukan untuk menghilangkan sel-sel kulit mati, sehingga kulit terlihat lebih cerah dan sehat. Akan tetapi, Anda harus berhati-hati, terutama jika Anda menggunakan eksfoliator jenis scrub.
Pastikan Anda tidak menggosok wajah Anda terlalu lama atau keras. Melakukannya terlalu keras, justru berisiko melukai kulit serta pembuluh darah di bawahnya.
Selain itu, mengeksfoliasi kulit terlalu sering juga termasuk kesalahan saat memakai skincare yang sering dijumpai. Hal tersebut justru dapat menimbulkan iritasi, kemerahan, bahkan peradangan pada kulit.
Idealnya, Anda cukup melakukan proses ini sebanyak 1-2 kali seminggu. Yang tidak kalah penting, gosoklah kulit Anda secara lembut dan perlahan.

5. Layering atau mengombinasikan dua produk secara tidak tepat

Kesalahan lain yang mungkin tidak Anda dasari saat memakai skincare adalah menggabungkan dua produk dengan bahan aktif yang berlawanan.
Anda mungkin menggunakan serum dengan bahan aktif retinoid dan mengombinasikannya serum vitamin C.
Faktanya, kedua bahan tersebut justru dapat mengakibatkan overeksfoliasi, sehingga kulit menjadi lebih sensitif terhadap sinar matahari.
Bahan-bahan aktif yang sebaiknya tidak Anda gabungkan dalam skincare adalah:
  • Retinoid dan AHA BHA
  • Retinoid dan vitamin C
  • Benzoyl peroxide dan vitamin C
  • Benzoyl peroxide dan retinol
  • Menggabungkan terlalu banyak skin care dengan kandungan asam (glycolic dan salicylic acid, glycolic dan lactic acid, dan lainnya).

Berbuat Baik Kepada Sesama (Altruisme) Ternyata Mampu Meringankan Rasa Sakit

Januari 10, 2020 0

Berbuat baik kepada orang lain ternyata mengurangi rasa sakit

menolong situasi darurat
Berbuat baik kepada orang lain merupakan bahasa lain dari altruisme. Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, altruisme merupakan tindakan untuk menolong orang lain agar mereka terhindar dari bahaya. 
Misalnya, Anda mengendarai mobil dengan sangat hati-hati di zona sekolah untuk memastikan tidak ada yang terluka. Kewaspadaan tersebut muncul karena dimotivasi oleh orang lain dan ingin membuat Anda menjadi lebih baik. 
Intinya, perilaku altruisme muncul karena Anda benar-benar peduli pada orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Setelah diteliti, perilaku berbuat baik kepada orang lain ini dapat mengurangi rasa sakit. 
Menurut penelitian dari Proceedings of the National Academy of Sciences, tindakan baik kepada orang lain dapat memicu pelepasan hormon baik. Misalnya, dopamin, oksitosin, dan hormon yang membuat tubuh Anda lebih baik. 
Penelitian ini dibagi menjadi tiga percobaan. Pada percobaan pertama, peneliti meminta para peserta untuk secara sukarela mendonorkan darah mereka setelah bencana gempa bumi terjadi. 
Hal ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengaruh rasa sakit jarum suntik. Hasilnya, hampir semua relawan setelah gempa bumi melaporkan bahwa rasa sakitnya jauh lebih ringan dibandingkan kelompok lainnya. 
yang harus diketahui sebelum melakukan pemeriksaan MRI
Berbagai rangkaian percobaan dilakukan dan ternyata menunjukkan hasil yang sama. Bahkan, pada percobaan terakhir, para relawan menyumbangkan uang untuk membantu anak yatim 
Selanjutnya, setiap relawan menjalani pemindaian MRI sambil diberikan kejutan listrik. Hasilnya, peserta yang menyumbang ternyata menunjukkan lebih sedikit respons otak atas kejutan listrik dibandingkan mereka yang tidak menyumbang. 
Bahkan, ketika para peserta tahu bahwa sumbangan mereka telah membantu, otak mereka semakin kurang merespons goncangan tersebut. Artinya, menolong orang lain kemungkinan besar dapat mengurangi rasa sakit pada tubuh. 

Alasan mengapa rasa sakit berkurang setelah berbuat baik

pertolongan pertama pada asma
Berbuat baik kepada orang lain secara ilmiah mungkin dapat mengurangi rasa sakit. Hal ini dikarenakan perilaku menolong orang lain tersebut termasuk dalam tujuan dalam hidup seseorang. 
Oleh karena itu, ketika menolong orang lain ternyata memicu pelepasan hormon bahagia, seperti hormon oksitosin
Bahkan, seperti yang dilansir dari laman Psychology Today, semakin tinggi hormon oksitosin dalam tubuh, semakin besar keinginan seseorang untuk menolong orang lain. 
Selain itu, ketika hormon oksitosin meningkat, ternyata kondisi ini juga meningkatkan hormon bahagian lainnya, seperti serotonin, dopamin, dan endorfin. 
Misalnya, endorfin dikenal sebagai hormon penghilang rasa sakit. Hal ini mungkin dikarenakan endorfin terdiri dari sekelompok besar peptida. 
Hormon ini diproduksi oleh sistem saraf pusat dan kelenjar hipofisis yang bekerja pada reseptor di otak Anda. Maka itu, ketika endorfin dilepas rasa sakit pun berkurang, tetapi meningkatkan rasa senang dan nyaman. 
Walaupun demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut, apakah perilaku altruisme memang melepaskan hormon-hormon yang dapat mengurang rasa sakit. 
Alih-alih menganggap perilaku altruisme adalah beban karena ingin selalu membahagiakan orang lain, cobalah melihat sisi positifnya. Berbuat baik kepada orang lain ternyata memiliki efek positif terhadap tubuh Anda sendiri, yaitu mengurangi rasa sakit.

5 Cara Mengatasi Kelopak Mata Bengkak Sesuai Penyebabnya

Januari 10, 2020 0

Berbagai cara menangani kelopak mata yang bengkak

Berdasarkan penyebabnya, kelopak mata yang bengkak dapat diatasi dengan kompres, obat tetes mata, atau penggunaan antibiotik. Pada kasus yang langka seperti penyakit Graves, pembengkakan mungkin perlu diatasi dengan kombinasi obat dan operasi.
Di antara banyaknya cara mengatasi kelopak mata bengkak, berikut adalah beberapa yang paling umum:

1. Kompres hangat

Sumber: Health Beauty Idea
Kompres hangat dapat meredakan bengkak akibat sejumlah kondisi. Di antaranya penyumbatan kelenjar minyak dan saluran air mata, bintitan, radang kelopak mata (blefaritis), serta radang selaput mata akibat infeksi bakteri atau virus (konjungtivitis).
Suhu hangat dari kompres akan melancarkan aliran darah serta mengurangi sumbatan di area sekitar kelopak mata. Untuk memperoleh manfaat ini, rendam kain bersih dalam air hangat. Kemudian, tempelkan kain pada kelopak mata selama beberapa menit.

2. Kompres dingin

Kelopak mata juga bisa membengkak akibat terlalu banyak menangis dan kurang tidur. Hal ini terjadi karena darah dan cairan menumpuk pada kelopak mata. Kompres dingin adalah cara efektif untuk mengatasi kelopak mata bengkak akibat kondisi ini.
Namun, manfaatnya tak berhenti sampai di situ. Kompres dingin juga mengurangi gatal sehingga bisa digunakan untuk mengatasi bengkak akibat reaksi alergi. Cukup rendam lap bersih dalam air dingin, lalu tempelkan pada kelopak mata selama beberapa menit.

3. Penggunaan antibiotik

salep jerawat
Jika bengkak tidak juga mereda, kelopak mata Anda mungkin terserang infeksi. Infeksi kelopak mata dapat muncul dalam beragam rupa, mulai dari selulitis, konjungtivitis, bintitan, blefaritis, atau akibat penyumbatan saluran air mata yang bertambah parah.
Dokter biasanya meresepkan antibiotik guna mengatasi kelopak mata bengkak akibat infeksi. Berdasarkan penyebab dan keparahannya, antibiotik bisa diberikan dalam bentuk salep, tetes mata, krim, obat minum, atau melalui infus pada kasus selulitis yang parah. Ingat, jangan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter

4. Menghindari pemicu alergi

Bengkak pada kelopak mata terkadang disebabkan oleh kontak dengan kotoran, debu, produk perawatan kulit, kosmetik, ataupun beragam pemicu alergi lainnya. Alergi pada mata umumnya tidak berbahaya, tapi gejalanya sangat mengganggu.
Cara terbaik untuk mencegah alergi adalah dengan menghindari pemicunya. Bila gejala sangat mengganggu, Anda pun bisa meminum obat alergi berupa antihistamin. Namun, jika obat tidak juga mengurangi reaksi alergi, segeralah berkonsultasi dengan dokter.

5. Operasi (pada penyakit Graves)

Penyakit Graves adalah penyakit autoimun yang membuat kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Penyakit ini juga membuat sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan tubuh yang sehat, termasuk pada kelopak mata.
Melansir American Thyroid Association, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi kelopak mata bengkak akibat penyakit Graves, di antaranya:
  • Menggunakan kompres dingin.
  • Memakai kacamata hitam karena mata lebih sensitif terhadap sinar matahari.
  • Menggunakan obat tetes mata untuk melembapkan mata.
  • Menggunakan krim steroid (sesuai resep dokter).
  • Operasi perbaikan bentuk kelopak mata.
  • Operasi perbaikan otot-otot mata.
  • Operasi kelenjar tiroid.
Mengenali penyebab bengkak pada kelopak mata akan membantu Anda untuk mengatasi kondisi ini dengan benar. Pembengkakan bahkan dapat berkurang dengan cepat apabila Anda menggunakan cara yang tepat.
Namun, jika bengkak pada kelopak mata tidak berkurang, mengganggu penglihatan, atau bertambah parah, segera periksakan diri Anda ke dokter. Pembengkakan mungkin menandakan masalah kesehatan yang lebih serius dan perlu ditangani dengan segera.